Rotan Jernang: Membangun dari Pinggir, Penyelamat Ekonomi dan Lingkungan

Puslitbanghut (27/3/2017)_Sejak abad ke-16 dalam perdagangan internasional sudah mengenal produk bernama Sumatrana dragon’s blood. Komoditas ini merupakan salah satu produksi dari rotan, yaitu rotan jernang. Pemanfaatan rotan pada umumnya adalah bagian batangnya, sedangkan pemanfaatan jernang adalah resin yang terdapat pada buahnya yang hanya dihasilkan dari individu betina.

Tidak semua jenis rotan mampu menghasilkan resin jernang. Resin hanya diperoleh dari berbagai spesies dari empat generasi tanaman yang berbeda yaitu Croton, Dracaena, Daemonorops, dan Pterocarpus. Di Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara, penghasil resin jernang adalah dari genus Daemonorops spp., famili Arecaceae. Menurut Rustiami et al. (2004), dari 115 spesies Daemonorops yang terdapat di Indonesia, terdapat 12 spesies Daemonorops yang menghasilkan getah jernang yaitu D. acehensis, D. brachystachys, D. didymophylla, D. draco, D.dracuncula, D. dransfieldii. D. maculata, D. micracantha, D. rubra, D. sekundurensis, D. siberutensis, dan D. uschdraweitiana.

Resin jernang memiliki kandungan kimia utama yaitu resin ester dan dracoresino tannol (57-82 %). Selain itu resin berwarna merah tersebut juga mengandung senyawa-senyawa seperti dracoresene (14%), dracoalban (hingga 2,5%), resin tidak larut (0,3%), residu (18,4%), asam benzoate, asam benzoilasetat, dracohodin, dan beberapa pigmen terutama nordracorhodin dan nordracorubin.

Berbagai manfaat dari resin jernang yang dihasilkan diantaranya sebagai bahan baku industri pewarna (marmer, keramik, kayu, kertas dan cat), bahan campuran kosmetik dan bahan obat. Resin D. draco dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi rasa sakit, meningkatkan regenerasi jaringan, keseleo, bisul dan mengontrol pendarahan (Blensky, 1993 dalam Pearson, 2002; Thomson, 2007); obat luka (Harata et al. 2005), serta untuk mengatasi gangguan pencernaan (Rustiami et al., 2004; Soemarna, 2009). Resin jernang dapat digunakan sebagai bahan astringen dan bahan membuat serbuk pasta gigi (Winarni et al., 2004).

Dilihat dari manfaatnya dibandingkan dengan harga rotan biasa, jernang memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Harga kualitas biasa resin jernang antara Rp. 400.000,- - Rp. 600.000,- sedangkan kualitas super bisa mencapai Rp. 4.500.000,- - Rp. 6.000.000,-. Harga yang bervariasi tersebut tergantung jenis rotan jernang, kadar dracolin, kadar obat dan kualitas resin. Sedangkan faktor yang mempengaruhi harga buah jernang adalah jenis, kualitas buah, ukuran buah dan letak geografisnya. Di Indonesia jernang kualitas super berasal dari Aceh diikuti Jambi, Bengkulu, Lampung dan lainnya.

Selain itu, dari segi lingkungan, pemanfaatan rotan jernang yang hanya memanen buahnya dan keberadaan rotan yang memerlukan pohon perambat untuk penopang hidupnya membuat tanaman ini dapat dijadikan tanaman agroforestri dengan tanaman kayu lainnya.

Melihat potensi besar rotan jernang, maka upaya budidaya perlu dilakukan. Tujuan budidaya juga perlu dibedakan untuk produksi dan sumber benih. Hal ini dikarenakan rendemen resin jernang tertinggi dihasilkan pada buah setengah tua. Padahal untuk sumber benih diperlukan buah yang tua. Masyarakat dapat menanam rotan jernang ini di lahan yang sempit sekalipun dengan menggunakan jenis yang sesuai dan kualitasnya tinggi seperti Daemonorops acehensis dan Daemonorops draco. Saat ini Pusat Litbang Hutan sedang mengembangkan teknologi budidaya dengan penanaman secara eks situ baik di KHDTK Kemampo Palembang; KPHP Model Boalemo; maupun KHDTK Haurbentes.

 

  1. Retno Agustarini, S.Hut, M.Si. (HP: 0852 1808 9011)

Peneliti Muda Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

  1. Sahwalita, S.Hut, M.P (HP: 0813 6152 9737)

Peneliti Balai Litbang LHK Palembang

Banner
Link Aplikasi
  • Min
  • Sen
  • Sel
  • Rab
  • Kam
  • Jum
  • Sab
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  •