Macan Tutul Sering Masuk Pemukiman, Puslitbang Hutan Membuat Peta Rawan Konflik Macan Tutul

Puslitbanghut (21/3/2017)_Dalam satu dekade terakhir, kasus masuknya macan tutul ke pemukiman dan memangsa ternak, semakin sering terjadi. Peneliti macan tutul dari Puslitbang Hutan, Badan Litbang dan Inovasi Kementerian LHK, Dr. Hendra Gunawan yang telah melakukan penelitian macan tutul sejak tahun 2009 mencatat di jawa barat saja telah terjadi 75 kasus macan tutul keluar hutan dan memasuki pemukiman.  Sebanyak 51 kasus (68%) terjadi di sekitar Gunung Sawal, Kabupaten Ciamis.  Ada 20 desa di sekitar Gunung Sawal yang pernah didatangi oleh macan tutul dari Gunung Sawal.

Meningkatnya kasus masuknya satwa liar ke pemukiman dan pemangsaan ternak seiring dengn meningkatnya kerusakan hutan yang menjadi habitatnya.  Penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi yang positif antara kerusakan hutan dengan meningkatnya kasus keluarnya macan tutul dari hutan.  Oleh karena itu, sebagai langkah mitigasi, Peneliti dari Puslitbang Hutan melakukan penelitian untuk membuat peta rawan konflik macan tutul.  Prinsip pembuatan peta ini mirip dengan pembuatan peta rawan gempa atau peta rawan bencana alam, yaitu menggunakan analisis pemodelan spasial menggunkan GIS.

Disamping peta kerawanan konflik antara macan tutul dan manusia, penelitian juga membuat peta kesesuaian habitat (habitat suitability) untuk macan tutul.  Dengan peta ini dapat diketahui, dimana saja habitat yang sesuai bagi macan tutul.  Peta ini berguna ketika akan melakukan pelepas liaran macan tutul yang tertangkap dan sudah direhabilitasi.  Ada delapan parameter yang digunakan untuk menyusun peta kesesuian habitat macan tutul. Sedangkan untuk membuat peta kerawanan konflik macan tutul menggunakan pendekatan tiga parameter utama yaitu topografi, elevasi dan status fungsi kaawasan hutan.  Topografi digunakan sebagai parameter karena terkait dengan kerawanan perambahan, dimana kawasan hutan yang dirambah umumnya adalah yang bertopografi datar sampai landai.  Demikian juga dengan elevasi atau ketinggian dari permukaan laut.  Umumnya pemukiman padat terpusat di daerah elevasi rendah, misalnya di bawah 1000 m dpl, sehingga kawasan hutan yang menanggung tekanan dari masyaraat pun umumnya pada ketinggian di bawah 1000  dpl.  Sementara status fungsi kawasan (hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi) sangat menentukan pola dan model manajmennya.  Misalnya, hutan produksi ditujukan untuk memproduksi kayu, sehingga ada areal yang ditebang atau digarap oleh masyarakat dengan pola tumpang sari atau pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM), sehingga lebih rawan konflik dibandingkan dengan hutan konservasi dan hutan lindung yang dalam pengelolaannya tidak ada penebangan dan tidak ada penggarapan oleh masyarakat.

Peta –peta kesesuaian habitat dan kerawanan konflik yang dibuat oleh Puslitbang Hutan memiliki validitas di atas 80% atau dengan perkataan lain, akurat.  Hasil penelitian menemukan bahwa di Jawa Tengah 79,17% populasi macan tutul berada di daerah rawan konflik sehingga terancam.  Sementara 70,59% populasi macan tutul yang sudah punah seara lokal, memang berda di daerah kerawanan konflik yang tinggi.

Di Jawa Barat dan Banten, 40 % habitat macan tutul rawan konflik (15% kerwanan tinggi) dan 60% dalam keadaan aman.  Sementara di Jawa Timur 65% Kerawanan tinggi, 19% kerawanan sedang dan hanya 16% kerawanan rendah atau aman.

Hasil analisis mengarah pada penyebab konflik macan tutul dan manusia disebabkan oleh 4 penyebab utama yaitu:

  • Perilaku teritorial, biasanya yang keluar dari hutan dan tertangkap adalah macan tutul jantan muda yang baru disapih sehigga harus mencari teritori sendiri, di luar teritori ayahnya.
  • Daya dukung dan tampung habitat terlampaui akibat populasi macan tutul yang bertambah, hal ini menunjukkan reproduksi yang baik di alam.
  • Habitat terdegradasi luas dan kualitas tak mampu mendukung dan menampung macan tutul. Kasus ini biasanya terjadi di daerah yang masif penggarapan hutan, baik hutan produksi, htan lindung maupun hutan konservasi, baik legal dengan pola PHBM maupun illegal. Salah satu contohnya kasus di Gunung Sawal, dimana penggarapan dilakkan secara legal dengan pola PHBM di hutan produksi di sekitar SUaka Margasatwa.  Hutan produksi sekitar Suaka Margasatwa yang selama ini menjadi bagian habitat macan tutul di gunung Sawal menjadi berkurang karena digarap menjadi kebun kopi dengan pola PHBM,  Akibatnya terjadi banyak kasus macan tutul keluar dari Suaka Margasatwa untuk mencari mangsa.
  • Mengikuti mangsa yang habitatnya rusak kemudian pindah ke kebun penduduk. Kasus di sekitar Gunung Sawal juga bisa diduga dengan asumsi ini, satwa mangsa seperti babi hutan dan kijang yang biasanya berada di hutan produksi, pindah ke hutan rakyat atau kebun penduduk yang lebih baik potensi hijauannya dibandingkan di hutan prouksi yang telah menjadi kebun kopi tanpa tumbuhaan bawah yang hijau.

peta rawan macan tutul

Peta Kerawanan Konflik Macan Tutul di Jawa Barat dan Banten

Dr. Hendra Gunawan

Peneliti Utama Bidang Konservasi Sumberdaya Hutan

Ketua Forum Konservasi Macan Tutul Jawa/FORMATA

Email: hendragunawan1964@yahoo.com

Banner
Link Aplikasi
  • Min
  • Sen
  • Sel
  • Rab
  • Kam
  • Jum
  • Sab
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  •